Apasih perbedaan Infaq/Shodaqoh, Wakaf,  Dan Zakat

Sebagian umat Muslim masih banyak yang belum memahami hakikat dan perbedaan antara zakat, infak, sedekah dan wakaf.  "Keempat instrumen tersebut mempunyai peranan secara ekonomi dan posisi masing masing," kata Muchamad Bachtiar dari Unit Pengelolaan Dana Lestari dan Wakaf IPB University.

Ia menjelaskan, zakat bersifat wajib, jumlah dan waktunya ditentukan, juga penerimanya. “Zakat lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dharuriyah (darurat) dengan menjamin keselamatan hidup manusia atau penerima zakat,” kata Bachtiar dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Sementara infak  dan sedekah  lebih fleksibel, baik waktunya, penerima maupun jumlahnya (meskipun terbatas) namun tetap dalam koridor dharuriyah dan hajiyyat. Kebutuhan hajiyyat ialah kebutuhan-kebutuhan sekunder, di mana jika tidak terwujudkan keperluan ini tidak sampai mengancam keselamatan, namun akan mengalami kesulitan dan kesukaran bahkan mungkin berkepanjangan. Tetapi sifat daruratnya tidak sampai ke tingkat yang menyebabkan kepunahan atau sama sekali tidak berdaya.

“Jadi yang membedakan al-dharuriyyah dengan al-hajiyyah adalah pengaruhnya kepada keberadaan manusia. Namun demikian, keberadaannya dibutuhkan untuk memberikan kemudahan serta menghilangkan kesukaran dan kesulitan dalam kehidupan. Fungsi lain infak  dan sedekah secara ekonomi adalah menjadi instrumen 'kail'  agar dapat memenuhi kehidupannya sendiri ke depan dan tidak menggantungkan diri dari orang lain terus menerus,” ujarnya.

Sementara, wakaf bersifat sustainable (berkelanjutan), berorientasi jangka panjang (tahsiniyyat) dan jumlahnya signifikan. “Dengan karakteristik tersebut, wakaf menjadi instrumen filantropi Islam  yang berperan dalam mewujudkan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pembangunan yang berkelanjutan,” tuturnya. Ia menambahkan,  wakaf juga menjadi instrumen yang dapat melakukan perubahan terhadap sebuah peradaban.

Wakaf memang tidak memiliki aturan perhitungan seperti zakat, tetapi ada beberapa syarat untuk melakukannya, yaitu:

  • Harus ada wakif atau orang yang mewakafkan harta bendanya.
  • Harus ada Nadzir atau orang yang akan menerima dan mengelola harta wakaf.
  • Harus ada harta benda wakaf, baik yang bergerak maupun tidak.
  • Harus ada ikrar wakaf di depan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dan dua orang saksi.
  • Harus ada peruntukkan harta benda wakaf.
  • Harus ada jangka waktu atas harta benda yang diwakafkan, yaitu kekal atau tahan lama.

Syarat syarat diatas tentunya diperlukan karena kita sebagai warga negara indonesia untuk tunduk dan patuh terhadap peraturan yang berlaku di NKRI.  Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Assafiiyah hadir untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf.

Karena sifat wakaf yang kekal dan tahan lama, serta dapat bermanfaat untuk masyarakat umum, maka mewakafkan harta benda lebih utama dan lebih besar pahalanya jika dibandingkan dengan sedekah lainnya. Apalagi jika wakaf dilakukan pada saat Bulan Ramadhan, maka keutamaannya akan semakin besar. Tidak hanya wakaf saja, bentuk sedekah apapun yang dilakukan di bulan suci ini akan mendapaatkan rahmat yang berlipat dari Allah SWT